Memotret dan Menulis

Yah, menulis bagiku adalah theraphy mental pertama sebelum mengenal lebih jauh tentang photography. Menyenangkan tentu saja. Bermain dalam pemikiran dan imajinasi sendiri adalah rekreasi murah meriah. Bahkan mampu menggerakkan dunia. 

Kegiatan ini merupakan seni olah jiwa, olah kata dan olah pikir tentunya. Menurutku tentunya. Sedangkan photography adalah sebuah seni dalam olah pandang, olah rasa, olah raga dan segala bentuk olahan. Terkecuali olah masakan yang bisa tercicipi. 

Kali ini aku akan sedikit mengulas theraphy mental yang telah lama bangkit kembali dalam giat beberapa waktu ini. Tentunya ketika aku memposting perihal perasaan ini. 

Antologi ku terkumpul sudah tiga buah, antologi keempat dan kelima sedang proses seleksi naskah dan terbit. Menunggu dengan sabar adalah jawabannya saat ini. 

Karya pertama antologi ku adalah "Misteri Dua gelas Air Putih" Yang menceritakan giat ku bersama anak-anak pramuka, PMR dan Paskibra. Selanjutnya "Cinta Orang Ketiga" merupakan proses berdamainya diri dengan masalah-masalah yang ada dalam hidup.

Untuk antologi ketigaku "Membuang Luka" merupakan perenungan diri dalam menyikapi hal-hal yang singgah dalam hidup. Pada antologi ketiga ini aku menyisipkan giat photography sebagai bumbu ceritanya. 

Sedangkan antologi keempat bercerita tentang sudut pandang profesi sebagai seorang guru. Tak kalah seru, antologi keempat bercerita tentang perasaan dilema antar setia atau mendua. 

Perbedaan dari hobi ini adalah rasa yang tersuguhkan. Dalam gambar tak perlu banyak kata-kata tersusun berbaris-baris. Karena satu gambar mewakili seribu bahasa. Sebaliknya, dalam menulis untuk menyampaikan pesan, aturan dalam bertata bahasa berperan. Terkadang harus dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) . 

Aturan dasar photography adalah memahami segitiga exposure. Sedangkan dalam memulis banyak sekali. Bervariatif tentunya, boleh memilih lebih dari satu. 

Teknik pelajaran menulis yang aku dapatkan dalam pelatihan "Pembina Menulis" adalah metode S. T. A. R, (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi) dari Ibu Iha Paiha, S. Pd. Bahkan ia memberikan rumus penyusunan kalimat yang lugas. Terima kasih bu! 

Jelasnya yang ia sampaikan dalam percakapan singkat melalui Whatapps yakni;

1.Jumlah Kalimat: Umumnya 3-5 kalimat, namun bisa bervariasi antara 1-8 kalimat, Maksimal 8 kalimat
2. Panjang kalimat yang baik adalah sekitar 15-20 kata 

Hal inilah yang mendasariku untuk membuat buku-buku antologi. 



Komentar

Postingan Populer