Tuesday, April 16, 2024

beginilah menulis

Masya Alloh, sudah setahun tidak Aktif menulis di blog. Mungkin karena kesibukan, atau mungkin pula karena tak mau menyibukkan diri. Alias malas. 

Jejak-jejak digital dalam bentuk tulisan masih ada dan terasa mengawang saat sekilas membacanya. Antara membaca dan menulis hanya tipis jaraknya yakni melalui jari jemari dalam syariat menggapai informasi. Tentunya diawali dengan niat tentunya.

Informasi yang saat ini baru bisa saja menjadi booming pada waktunya, sampai pada titiknya akan menjadi yang basi atau usang beriringnya waktu. Atau bisa jadi informasi baru pula jika dibalik untuk menemukan rekam jejak.

Perbanyak menulis dengan memperbanyak membaca, begitu seseorang menyarankan dalam berkarya pada sebuah tulisan. Namun bagiku, tulis saja dahulu baru edit kemudian. Agak basi memang, tapi itu efektif.

Menulis membuat awet muda, menulis sebuah therapi bagi mereka yang membutuhkan keheningan. Dan menulis adalah rekam jejak-jejak sejarah dalam untaian huruf yang bermakna.

Yuk menulis lagi!

Thursday, April 13, 2023

Orang Ketiga Yang Dicintai

Sudah bukan zamannya berfikir  yang pertama dan yang terakhir untuk mencintai atau dicintai. Begitu pula beranggapan untuk menempatkan diri menjadi yang pertama tapi diduakan atau sebaliknya menjadi nomor dua yang dinomor satukan. Ini urusan hati, kenapa tidak menempatkan diri menjadi orang ketiga yang dicintai?

Hah, sarkas memang. Namun, kenyataannya memang demikian adanya. Tak perlu syarat dalam memilih hati yang ingin terlabuhkan. Terkadang, orang kesepian merasa ramai dalam sunyinya. Mulutnya diam namun pikirannya  sangat berisik, bisa pula dalam hatinya berkecamuk. Tegasnya perang batin, mungkin?

Pilihan menjadi orang ketiga yang dicintai  adalah sebuah opsi yang relevan, tak harus selingkuh atau harus sembunyi-sembunyi dalam menunjukkan rasa. Biarkan waktu yang menjawab. Benar atau salah, elegan atau tidaknya semua akan terjawab pada masanya. Meski, penilaian sebagian manusia memandang miring akan hal itu. Manusiawi bukan?

Ada yang beranggapan bahwa cinta sejati hanya datang sekali pada setiap individu yang telah mabuk dalam urusan-urusan hatinya. Selebihnya adalah hanyalah meneruskan kehidupan saja. Sejatinya setiap manusia adalah pejuang dan pencinta, yang mana keduanya saling keterkaitan satu sama lain. Jika ia berjuang tanpa rasa cinta, adalah sebuah kesia-siaan. Lalu jika ia memiliki cinta tanpa ada tekad untuk memperjuangkannya, cinta macam apa yang seperti itu? Sepertinya gelar pengecut sangat cocok.

Dalam berjuang tentang cinta ada berbagai macam cara, tetapi secara garis besar hanya dua macam. Pertama adalah cara patriotik dan anti patriotik. Cara patriotik berjuang atas nama cinta mengorbankan sesuatu hal yang paling berharga untuk meraih cinta yang ia tuju menjadi lebih baik. Sedangkan anti patriotik melakukan pembuktian cintanya dengan cara yang berbeda. Ia lebih menunjukkan sisi gelapnya secara pribadi, karena menurutnya sisi terang terlalu mudah untuk dicintai.

Contoh kecil dalam mencintai dari sisi gelap adalah membakar seluruh dunia untuk orang yang  terkasih. Hingga yang tersisa adalah ia dan orang yang terkasih. Terkesan menakutkan, namun itulah sisi gelap dalam mencintai. Mengerikan!

Jika dalam sebuah kisah atau novel mungkin aku akan memilih sisi gelap, karena karakter tokoh dalam mencintai seseorang itu unik. Terlebih lagi, ada sebuah pertanyaan cinta itu perasaan atau bukti. Jawabku keduanya saling berkait, cinta takkan menjadi sebuah perasaan tanpa bukti yang nyata. Bukti cinta akan hilang esensinya jika tanpa ada persaan tulus dalam pembuktiannya.


The light easy to love, show me your darkness!

Tuesday, April 19, 2022

Menjadi Pembelajar Lagi

    Dalam hidup tak henti-hentinya untuk selalu belajar. Hal-hal baru atau pun lama sekalipun terkadang membuat segala sesuatu menjadi ketinggalan atau merubah sebuah peradaban. Tak selamanya abadi, seperti yang terjadi saat-saat ini. Solusi untuk menghadapi perubahan itu sendiri adalah dengan mempelajari yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Tegasnya, memandaikan diri dalam menghadapi perubahan.

    Sesederhana itukah? Jawabannya, kompleks. Karena, banyak faktor-faktor pendukung yang membuat seseorang mau dan mampu untuk terus belajar. Selain pembiayaan tentunya. Jika menarik garis lurus dari hal apapun semua tergantung pada niatnya masing-masing. Sebab, sekali kita mempelajari sesuatu maka akan berkaitan dengan hal-hal lain. Contoh kecil adalah belajar menulis. Maka belajar menulis akan berkaitan dengan pembelajaran pembendaharaan kata, tata bahasa, cerita, syair dan puisi serta hal yang lainnya.

    Belajar memiliki padanan arti  yang mendalam bagi seseorang yang gemar melakukannya. Sebab orang yang senang belajar biasa disebut pembelajar. Ia sangat senang dengan hal-hal baru dan sering menelaah hal-hal yang terkesan kuno atau tertinggal untuk dikaji ulang. Dengan tujuan menemukan hal baru kembali. Pembelajar turut menyumbangkan peradaban bagi dunia, karena dari merekalah hal-hal yang unik dan menggelitik sekaligus pendobrak perubahan ke arah yang lebih baik.

    Memang tak ada sesuatu yang abadi selain perubahan itu sendiri yang abadi. Orang yang mampu bertahan dalam perubahan adalah orang yang mau belajar dan membuka diri dalam menerima setiap hal dan memprosesnya kearah yang lebih baik. Terkesan filosofis, namun kenyataan hal itulah yang terjadi. Apapun hasilnya, semoga saja semua menjadi pribadi yang senang belajar.